Kasus Kebaya Merah Coreng Budaya Nusantara

Kasus Kebaya Merah Coreng Budaya Nusantara Menurut Pakar Universitas Brawijaya

Kasus Kebaya Merah Coreng Budaya Nusantara Menurut Pakar Universitas Brawijaya

Kasus Kebaya Merah Coreng Budaya Nusantara Menurut Pakar Universitas Brawijaya – Polda Jatim telah berhasil mengamankan pelaku produksi video asusila kebaya merah. Dua tersangka sudah ditahan saat ini. Walaupun telah ditangkap, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB), Rachmat Kriyantono memeringatkan kasus video kebaya merah ini bisa memicu citra negatif untuk budaya khas nusantara.

“Video melakukan citra negatif yang menimpa artefak atau produk budaya yang khas Nusantara yaitu kebaya dan sewek atau jarit. Bisa juga menandakan perilaku seksualitas ini sebagai warisan sejak dahulu karena kebaya dan sewek sudah ada sejak zaman dahulu,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (11/11/2022). Dalam sudut pandang Ilmu Komunikasi, dia menilai video kebaya merah ini adalah pesan (konten) komunikasi yang bisa berpengaruh membahayakan masyarakat.

“Konten ini adalah edukasi yang merusak norma kesusilaan menjadi bagian budaya adiluhung bangsa, yang bersumber pada nilai agama,” ujar dia. Pria yang akrab disapa RK ini memperhitungkan konten tersebut tidak pantas untuk semua usia, bukan hanya anak-anak, bahkan disebar di ranah publik yang mudah diakses. “Jika internet didominasi konten semacam ini maka pola berpikir, bersikap, dan bertindak masyarakat akan mengikuti konten internet tersebut,” terang dia. RK khawatir di masyarakat akan terwujud budaya baru termasuk standar kesusilaan baru.

Pelaku Memviralkan Adegan Karena Kesenangan

Dia mempertunjukan kasus content creator Situs OnlyFans dan lainnya. “Pelaku seakan memandang perilaku memviralkan adegan mesum ini merupakan kesenangan. Pornografi yang telah melenceng dari hanya bersifat konsumsi privat sebagai bersifat publik dan semula menjadi penikmat pelaku sudah dianggap biasa oleh generasi muda. Ini berbahaya,” ujarnya. Alumni Doktor University of Western Australia ini menilai menyalurkan ideologi kebebasan yang merusak nilai kemanusiaan berjalan akibat perilaku kehewanan (actus homini).

Baca Juga : Berikut Tips Menentukan Universitas, Persiapan SNPMB 2023

“Actus homini ini bisa juga dikarenakan gangguan otak yang tidak bisa mengontrol pikiran ataupun perilaku nafsu kehewanan. Manusia pada dasarnya merupakan animal simbolicum atau homo sapiens yang dalam bahasa Islam dikenal sebagai hayawan nathiq, yakni manusia merupakan hewan berpikir,” ungkapnya. “Jika manusia tidak bisa memakai pikirannya dalam berperilaku maka takubahnya seperti hewan,” sambung dia.